Monday, April 12, 2010

Rozaq's Journal, Chapter I "Sebuah Permulaan"


-->
“R” untuk robert, “O” untuk omega, “A” untuk alpha dan “Q” untuk queen. Begitulah biasanya cara ketika aku memperkenalkan nama diriku dan aku pergunakan juga untuk memulai jurnal ini.

1 Maret 2005
Hari ini adalah hari libur, aku memulai hariku dengan secangkir kopi dan selembar roti beroleskan selai kacang favoritku. Sambil membaca Koran mengenai harga saham hari ini dan demonstrasi yang dilancarkan para mahasiswa. Aku jadi teringat sejenak mengenai peristiwa 1998, ketika aku turut diajak serta temanku untuk berdemonstrasi dan aku menolaknya. Aku lebih suka berada dibelakang layar, mencatat dan mewawancarai beberapa orang narasumber kemudian mengetiknya menjadi sebuah berita yang dicantumkan di Koran kampus. Terkesan licik dan pengecut memang, tidak mau berjuang hanya mengambil keuntungan dari balik peristiwa itu.
Bagiku, hal itu bukan berarti aku seorang pecundang dan pengecut karena lewat tulisanku orang yang tidak tahu akan tahu, orang yang tidak mengerti akan mengerti, dan orang yang tidak mempunyai sikap akan menjadi mempunyai sikap, atau bahkan orang yang tadinya pengecut menjadi pemberani. Jika dikatakan aku seorang pembunuh, mungkin saja iya karena lewat tulisanku banyak temanku yang ikut serta berdemonstrasi. Aku hanya bisa berdoa setiap malam sebelum memejamkan mata agar Tuhan mengampuni semua dosa-dosaku. Amien.

8 Maret 2005
Aku melangkahkan kakiku ketempat seorang pengusaha kontarktor muda. Ketika aku menemuinya prosedurnya sangat mudah, hanya menunggu dua menit lalu dipersilahkan masuk keruangannya yang dingin dan penuh asap rokok. Aku memperkenalkan diriku dan seperti biasa menyebutkan tujuanku datang tapi belum untuk perusahannya.
Dia tertarik pada program yang aku ceritakan tapi tidak tertarik untuk dibuatkan ilustrasinya dengan alasan sudah mempunyai terlalu banyak asuransi dan tidak tertarik menginvestasikan dananya di tempat seperti itu. Dia lebih suka menyimpan dananya di properti berupa tanah, rumah dan ruko. Dia memang masih muda, mungkin usianya masih 25 tahun, tapi Ia ingin menunjukan gambaran pria dewasa berusia 40-an lewat penampilan, gaya bicaranya dan rambut beruban yang tidak disemir.
Kami banyak berdiskusi masalah investasi, hanya saja aku tidak ingin berdebat panjang, dengan sikap merendah yang kutunjukan dari awal akhirnya aku meminta referensi dengan menyentuh rasa profesionalisme dan sosial pengusaha muda itu. Pertemuan itu aku tutup dengan jabat tangan hangat setelah dia mengetahui bahwa kami dari almamater sekolah yang sama.
Sore ini aku meminum kopi hangatku di Star Bucks sambil menunggu teman lamaku, dia mantan ketua BEM di kampusku dulu dan dia berniat unuk menjadi salah satu nasabahku. Tinggal beberapa teguk yang tersisa dicangkirku dan dia baru datang. Tampilannya lebih kusut dari terakhir kali aku bertemu dengannya, dia dengan santainya memakai sandal jepit swallow, celana jeans biru yang sedikit kedodoran dipadukan dengan kaos oblong putih dan jaket. Dia membuka pintu dengan santainya dan memutar matanya mencariku, spontan aku melambaikan tanganku kepadanya bertepatan dengan seorang wanita muda yang melewatinya dengan perasaan jijik.
Kami, mengobrol sebentar, lalu dia mengeluarkan kertas dan mencatat sesuatu lalu menyerahkannya padaku. Aku membacanya sekilas, ternyata berisi urutan nomor handphone yang berbeda. Tapi yang menarik di sini dia mencantumkan pemisah diantara nomor-nomor itu bukan dengan sebuah koma atau titik melainkan dengan tulisan tipe handphone bermerk dengan harga yang mahal dan digunakannya untuk nomor-nomor tersebut. Bagiku, apalah artinya tipe handphone itu, tapi mungkin baginya itu sangatlah berarti. Sebuah bentuk eksistensi diri.
Tidak lama untuk membuat dia menandatangani semua berkas-berkas yang aku bawa. Dia hanya menanyakan kemana dia harus mentransfer uang asuransinya dan aku tahu, dia akan menanyakan hal itu terus, setiap bulan, dan setiap saat ia akan mentransfer uangnya dan kewajibanku adalah menjawab setiap pertanyaannya, seberapa seringnya itu.
Share:  

0 komentar:

Post a Comment