Tuesday, August 23, 2011

Stories: Saya dan Terminal Hujan

Terminal Hujan.. namanya jadi bagus banget sekarang, hhai.. karena dulu waktu dibina ibu-ibu PKK mereka belum mempunyai nama ini, LOL..


Bagi yang tahu BOGOR kota hujan pasti sudah kebayang nama ini berhubungan dengan si Kota hujan alias "BOGOR", dan kata terminalnya pasti langsung mengarah ke Terminal Baranangsiang. Apalagi? walaupun di Bogor terdapat juga terminal bubulak, tapi dimana-mana pasti orang menyebut baranangsiang, dan itu entah mengapa..


Yups, kali ini saya akan mengpost entri seputar sebuah komunitas yang bernama "Terminal Hujan", bukannya Terminal baranang siang dan kota bogor.red, hehe..


Awal perkenalan saya dengan terminal hujan sebenarnya sudah lama sekali, sejak tahun 2008 zamannya saya masih imut-imutnya jadi mahasiswa, LOL.. Awal perkenalan saya dengan komunitas ini berawal dari kedekatan saya pada kakak kelas saya kak Ilen, dari kak Ilen inilah saya diajak mengajar di sana. wait!! mengajar?? yes!! mengajar... bigung kan? haha, mungkin ini akibat dari tadi panjang lebar saya nulis ternyata belum menyebutkan ini sebenarnya mau cerita tentang komunitas apaan ya? haha.. oke.. maklum maksudnya mau bikin penasaraan berkepanjangan.. LOL. Terminal Hujan adalah komunitas pengajaran bagi anak-anak marjinal daerah terminal baranangsiang kota Bogor.


Dulu, pengajarannya dilakukan oleh ibu-ibu PKK setempat. Ilmu yang diajarkan seputar ensiklopedia dan agama atau hanya sekedar membacakan buku cerita bagi mereka. Sejak pertengahan 2011 komunitas ini diambil alih oleh beberapa pemuda/i Bogor dan jadilah “Terminal Hujan” yang saat ini. Pengajaran yang diberikan saat ini oleh kakak-kakak pengajar terminal hujan lebih bervariatif daripada dulu, ketika pertama kali saya dikenalkan oleh komunitas ini. Mereka juga sudah ada beberapa rencana goals-goals ke depan yang ingin dicapai untuk anak-anak terminal hujan, cuman mungkin karena kurangnya sumber daya juga, mereka agak sedikit kesulitan untuk merealisasikan golas-goals itu. Ini juga dipengaruhi oleh karakteristik anak-anak terminal hujan. Rata-rata usia mereka masih di bawah 10 tahun, dan setiap mereka berkumpul selalu saja heboh, entah terjadi kasus pemukulan, tendang-tendangan, cubit-cubitan sampai kasus saling hina-menghina, hahaha.. pokoknya terrible banget untuk diatur apalagi anak-anak usia segitu masih suka bermain. Jadi fokus mereka mudah tepecah. Nah, ini lah yang masih di “godok” oleh kakak-kakak pengajar terminal hujan, untuk tahun ini para kakak-kakak pengajar ingin memfokuskan pada goals kenaikan kelas dan bebas buta huruf. Ternyata problem utama dari anak-anak ini adalah banyaknya yang tidak naik kelas, dan sudah sekolah tapi masih belum mampu membaca dan menulis secara optimal.


Kak Anggun sedang memberikan pengarahan

sebelum mulai mengajar


Bagaimana saya dapat kembali dipertemukan oleh komunitas ini sebenarnya jawabannya cuman satu.. “karena kehendak Tuhan”, hahha.. simple banget yak!!. LOL. Jadi sebenarnya, saya sedang mencari info seputar anak jalanan, siapa tahu saja ada diantara mereka yang sedang membutuhkan biaya untuk sekolah, karena entah mengapa secara tiba-tiba saya sempat mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu di halaman parkir Botani square, ketika saya bertemu seorang anak laki-laki hampir remaja yang sedang menjajakan kue jualannya padahal itu sudah hampir larut malam. Ia mengatakan bahwa, ia butuh biaya untuk sekolah. Sayangnya, selepas pertemuan itu saya malah lupa meminta alamat dimana dia tinggal. Hal itulah yang menggugah saya mencari informasi seputar anak jalanan. Informasi ini sudah lama saya cari sebenarnya, tapi belum menghasilkan apa-apa, padahal saya sudah mencari melalui perkumpulan ESQ Bogor yang memang saya dengar memiliki pembinaan terhadap anak jalanan. Sudah saya masuk ke perkumpulannya setelah sekian lama menghilang (kelihatan banget tidak aktif di ESQnya, datang kalau cuman butuh aja ini kayaknya, hahha.LOL) tapi belum juga menemukan contact person yang mengurusi seputar anak jalanan.


Akhirnya saya kembali pada kenalan lama di ESQ saya Andalusia yang saat ini malah aktif di ESQ Jakarta, saya pun deiperkenalkan dengan mba Uthie yang konon katanya aktif dalam kegiatan charity, setelah panjang lebar, akhirnya saya dilemparkan juga ke Mba Qorry, yang ternyata sebagai salah satu kakak pengajar di Terminal Bogor, setelah itu saya banyak mengobrol dengan Anggun masih salah satu kakak yang mengajar juga di sana, Anggun inilah yang pertama kali mengunjungi ibu-ibu PKK dan kemudian bersama teman-temannya menyulap komunitas ini menjadi “Terminal Hujan”. Awalnya saya menyangka ini komunitas anak jalanan binaan ESQ yang selama ini saya cari tapi ternyata berbeda, ini adalah komunitas pengajaran kepada anak-anak marjinal yang pada tahun 2008 saya pernah ditawarkan untuk mengajar oleh kak Ilen, kakak kelas saya ketika kuliah di IPB.


Saat itu juga saya berasa sudah berjodoh dengan terminal Hujan, Weeeew!! Lebay Bombay ini mah..LOL.


Ketika saya datang ke sana setelah sekian lama tidak mendengar kabar mengenai komunitas ini, saya benar-benar disambut hangat oleh kakak-kakak pengajar saat ini, yang rata-rata hampir seumuran dengan saya dan ada beberapa yang sudah lebih tua juga, haha (maaf bukan maksud menghina, anyway jiwa Anda tetap muda ko kak, LOL). Hampir setiap kali pertemuan ada kakak sukarelawan yang membantu mengajar, dan kali ini adalah saya, hehe. Sebenarnya saya menawarkan mengajarkan ilmu finance kepada mereka, tetapi setelah mengobrol dengan beberapa anak terminal hujan, saya mengalami kesulitan dalam mengajarkan habbit menabung karena rata-rata mereka tidak dapat uang saku dari orang tua mereka. Nah, kalau sudah begitu, apa yang mau ditabung?? *binguung.. binguung*


Akhirnya saya putuskan untuk mengajar seputar pengenalan uang dan bagaimana cara menggunakannya dengan bijak saja sebagai materi awal, cuman materi ini belum sempat saya ajarkan kepada mereka untuk saat ini karena dalam waktu dekat mereka akan tambil bernyanyi dan bermain musik di kebun raya Bogor, sehingga pertemuan saya dengan anak-anak terminal hujan diisi dengan latihan menyanyi dan buka puasa bersama.


Saya dan beberapa kakak pengajar

sedang memilih lagu untuk pementasan lagi,

ternyata adik-adik mau menyanyikan lagu "Garuda di Dadaku"


Kak Dhany sedang melatih cara memainkan alat perkusi


Kak Ashny dan kakak-kakak yang lain

sedang mengajar menyanyi


Kak Adi memberikan kultum sebelum berbuka puasa :)


Walaupun keadaan sedikit ramai dan sedikit-sedikit harus melerai yang berantem tapi saya benar-benar so.. excited membantu mengajar di sana. Anak-anak itu masih begitu polos, ada satu anak yang dekat dengan saya walaupun baru pertama kali bertemu dengan saya, namanya Widi. Ada cerita lucu antara saya dan Widi. Sebelumnya saya mau mengenalkan terlebih dahulu bahwa Widi ini begitu berhasrat ingin menonjol diantara kawan-kawannya padahal usianya masih 5 tahun, tetapi rasa malunya juga tinggi, jadi begitu dia maju ke depan dan disorakin teman-temannya, dia langsung duduk berjongkok sambil menyembunyikan wajahnya dan butuh waktu beberapa menit untuk membujuknya kembali.


Widi dan Ryan (adik sepupu saya) ketika bermain PSP


Oke!! Balik lagi ke kisah saya dan Widi. Entah mengapa, tiba-tiba Widi mendekati saya sambil berkata “Kak aku mau sholat!!” langsung saja saya segera menemaninya ke tempat sholat. Saya temani Widi sholat yang katanya sudah bisa sholat sendiri. Saya melihat dia melaksanakan ibadah sholat Ashar. Dan apa yang terjadi guys?! Habis rakaat kedua Widi langsung memberikan salam. Taraaaaaaa!! Ini dia kesalahan dalam sholat yang sangat fatal, “Salah jumlah rakaat!!” LOL, langsung saja saya mengoreksi Widi, saya memberitahunya bahwa sholat Ashar 4 rakaat, dan Widi baru melaksanakan 2 rakaat, tanpa perlawanan Widi langsung sholat kembali untuk menyempurnakan sholatnya yang pertama, dan apa yang terjadi lagi guys?! Begitu rakaat ke dua, Widi kembali memberikan salam!! Taraaaaaa!! Ayo!! Perhatikan rumusnya:


2 rakaat (sholat yang pertama)+2 rakaat (sholat yang ke dua)= 4 rakaat.

Sholat Ashar = 4 rakaat


Ya ini adalah rumus kalkulus yang tepat, hhaha. Setelah selesai sholat, Widi melanjutkan aktifitasnya untuk kembali berlatih bernyanyi bersama teman-temannya.


Yups, begitulah selintas cerita saya dengan Terminal Hujan, bagaimana ceritamu?? :p


Saya dan Para kakak Terminal Hujan

Share:  

4 comments:

  1. Hanieee!!!! kapaan ke Bogor lagi?

    ReplyDelete
  2. Hey... titi whatsap!! Sori br balas br kebaca sekarang. Belum sempat ngBlog lg..
    Udah lama ya ga ketemu terminal hujan. Kangen juga.. nanti kl sy ke Bogor sy kabari sekalian main ke sana (masih sibuk sm kerjaan)

    ReplyDelete
  3. Halo K'Hani..saya Kenny, murid kelas 2 di SMP 4 Bogor.. kalau boleh, saya pengen gabung ke Terminal Hujan sebagai pengajar..saya sadar masih belum punya banyak ilmu, Kak :) tp pengen nyoba ngajar anak-anak SD, kayaknya seru dan juga bisa nambah ilmu dari kakak-kakak di terminal hujan. mohon infonya ya kak kalau mau gabung gmn caranya.
    Makasi kak...

    ReplyDelete
  4. hai mba hanie, saya windi.
    saya boleh minta contact person terminal hujan? saya dapat info terminal hujan dari teman saya, kebetulan kantor saya sedang mencari sekolah atau lembaga pendidikan untuk program csr.
    atau mba hani bisa hubungi saya di nomor 021-5708989
    terima kasih ya mba.

    ReplyDelete