Sunday, October 28, 2012

Catatan Penting Seputar Umroh, Part 2




Here we Go!! Ini dia tulisan ke dua saya seputar umroh 2012 saya kemarin, kali ini saya akan membahasnya perkota. Perjalanan umroh saya menggunakan jasa maskapai Garuda Indonesia, memang sempat keleleran di bandara Soekarno hatta karena dela hampir 2 jam, tapi setidaknya menggunakan Garuda tidak perlu transit dulu yang membuat perjalanan makin lama nggak karuan. Perjalanan saya menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah memakan waktu 9 jam.

Bandara King Abdul Aziz


Tidak banyak yang ingin saya ceritakan seputar bandara ini selain masalah pulsa, mahram dan tentu saja makanan. Ketika baru saja sampai di Bandara dan menunggu melewati petugas imigrasi kita akan ditawari oleh sejumlah operator pulsa. Saran saya jika ingin mendapatkan yang lebih murah tahanlah hawa nafsu untuk segera membeli pulsa jika ingin berganti provider, dari provider Indonesia ke provider Arab.


Pulsa

Pulsa-pulsa yang harganya lebih murah tapi dari provider yang bagus ini banyak sekali di jual di pinggiran Masjid, khususnya Masjid Nabawi di Madinah, pulsa perdana yang di jual di sana dibandrol dengan harga sekitar SAR 25, sedangkan isi ulangnya bisa dimulai dengan SAR 10. Pilihlah provider Mobily atau STC, ini saya rekomendasikan sekali, karena jika operator yang lainnya suka mengalami gangguan. Bahkan operator Mobily untuk pembelian perdananya terkadang suka memberikan bonus SMS dan telepon ke sesama provider, lumayankan, hehe. Bagi teman-teman yang masih mau eksis berinternet ria, update-update status juga bisa menggunakan paket Internet yang paketannya sekitar SAR 100 s.d SAR 150. The most important, jangan pernah lupa meminta tolong penjualnya untuk mengaktifkan nomornya.

Mahram

Melewati petugas imigrasi kita tidak perlu takut karena kebanyakan petugas ini bisa berbahasa Indonesia dan ramah terhadap orang Indonesia ketimbang orang Irak, Iran dan Pakistan. Jadi santai saja guys! Bahkan jika kamu tidak pintar-pintar amat berbahasa inggris juga bisa menggunakan bahasa Indonesia, tapi menggunakan bahasa Indonesianya jangan kelewat gaul juga nanti bingung juga petugasnya, yang baku-baku saja. Hhe. Selanjutnya, jangan lupakan keberadaan mahram kalian khususnya jika berangkat tanpa saudara laki-laki atau Ayah kalian, karena kita tidak bisa melewati petugas imigrasi tanpa mahram. Biasanya jika kita berangkat tanpa keluarga laki-laki maka oleh biro perjalanan mahramnya akan dipasangkan dengan jamaah lainnya yang sudah berumur, hehee. Maksudnya di sini adalah si doi pantaslah jika dibilang ‘bokap’ kita sob. Nah, ketika petugas bertanya : Mahramnya siapa?  sebutkan nama si doi dan tunjuk orangnya, biarkan petugas imigrasi melihat si doi yang sedang berpura-pura menjadi bagian dari keluarga kita. lol. Mengenai mahram ini hanya dikenakan bagi para wanita di bawah usia 40 tahunan, jadi jika usia sudah di atas itu bisa lewat tanpa mahram. Pengurusan mahram "perwakilan" alias "pura-pura" ini ada biayanya, oleh biro perjalanan para wanita yang di bawah usia bebas mahram dikenai charge atau biaya tambahan untuk yang harganya bervariasi, biasanya sekitar Rp 250.000/orang (Mei 2012).

Jamaah Sedang Menuju Bagian Imigrasi

Makanan

Bicara soal makanan, banyak outlet makanan yang dijual di sekitar bandara dengan harga mulai SAR 25 s.d SAR 75 dengan menu beragam, sebenarnya untuk ukuran orang Indonesia memakan porsi seharga SAR 25 sudah bisa dibilang kenyang karena porsi makanan di sana gede-gede friends!. Cuman biasanya makanan di Bandara tidak terlalu laku untuk di santap ketika baru tiba kecuali jika di pesawat tidak dikasih makan, hehe.  Saya pun baru membeli makanan di outlet bandara ketika akan pulang, sambil menunggu jam keberangkatan pesawat yang lamanya juga na’uzubilah.

Koper

Sebelum meninggalkan bandara King Abdul Aziz jangan lupakan koper kalian, berilah tanda pada koper dengan warna yang “dangdut” alias ng-Jreng mencolok mata, maksudnya adalah agar mudah ditemukan. Pemilihan koper yang anti air dan tanpa resleting juga saya sarankan demi keamanan koper, dan tentu saja jika perlu koper ini ukurannya yang jumbo agar bisa memuat banyak barang. Semakin sedikit koper yang dibawa akan memudahkan ketika pengambilan bagasi pesawat. Di bandara juga tersedia jasa pembungkusan koper atau kardus, jadi jika teman-teman pulang dengan koper beranak (padahal nggak tahu juga ini koper jantan atau betina ko tahu-tahu beranak,lol) bisa diamankan dengan membungkusnya di jasa pembungkusan ini. Biasanya yang menggunakannya adalah bagi para jamaah yang membawa kardus atau koper tentengan tipis ketika akan masuk bagasi pesawat. Jasa pembungkusan ini dipatok dengan harga mulai SAR 15.


Madinah


Kebetulan biro umroh saya mengambil rute Bandara King Abdul Aziz-Madinah-Mekkah-Jeddah-Bandara. Jadi tujuan saya selepas dari bandara adalah Madinah. Perjalanan dari Bandara ke madinah lamanya na’uzubillah, hhe, kurang lebih memakan waktu 6 jam.  Jadi bagi yang mabok kendaraan silahkan saja diminum obat anti mabuknya, tapi guys saya akui, medan jalan Jeddah-Madinah ini nyaris mulus dan lurus bebas macet berasa naik kereta api. Jadi, saya saja yang notabane mabuk darat entah mengapa malah tiadak muntah-muntah bahkan nyaman-nyaman saja ketika membaca buku dzikir yang diberikan biro perjalanannya. saya tidak mengalami pusing, puyeng dan kunang-kunang akibat membaca di kendaraan. Ajaib!!


Pintu Masuk Masjid Nabawi

Saya di Masjid Nabawi

Berbeda dengan masjid di Indonesia apalagi masjid di RT/RW setempat yang pintunya cuma dua, tiga atau empat. Masjid Nabawi memiliki pintu berpuluh-puluh, jadi hafalkan nomor pintunya. Bagi para pria ambilah nomor pintu angka awal, seperti nomer  1, 2, 3. Bagi wanita ambilah pintu dengan nomor yang lebih besar. Khusus di Masjid Nabawi, penjaganya ini sungguh sadis banget dalam hal sita-menyita barang. Barang yang akan disita adalah handphone berkamera dan tentu saja kamera. Jadi jangan pernah berharap kamera DSLR Anda yang segede bagong itu bisa masuk masjid, haha—tinggalkan saja di hotel.

Pakailah trick dalam menyembunyikan kamera pocket dan handphone berkamera, inilah saatnya teman-teman dituntut untuk berpikir kreatif dan inovatif, lol. Cuman saya akan membagikan tips dan trick saya dalam menyembunyikan gadget-gedget tersebut  yang sering saya lakukan dengan hasil sempurna, sebagai berikut :

1) Pakailah mukena. Sisipkan kamera dan handphone pada gulungan mukena bagian pinggang atau di dalam   perut, tutuplah bagian perut dengan tas yang diletakan di depan perut, biarkan para penjaga wanita bercadar ini membogkar-bongkar tas Anda padahal kameranya berada dibelakangnya, hhe, benar-benar licik.
Tips dan Trick Menyembunyikan Kamera
2) Bawalah mukena. Nah jika tidak mau memakai mukena mungkin dengan alasan panas atau biar gaya,  maka sisipkan kamera dan handphone berkamera kalian pada lipatan “dalam” mukena. Lipatlah dengan lipatan tebal sehingga ketika diraba tidak berasa ada yang aneh.

3) Bawa kantung sandal. Cara yang ini agak sedikit melanggar hak asasi per-gadget-an sebenarnya, hehe, tapi apa boleh buat daripada tidak bisa masuk dengan kamera dan handphone? Lebih baik begini saja. Masukanlah gadget kalian ke dalam kantung sandal. Begitu masuk masjid lepaskanlah sandal atau sepatu kalian dan taruh di atas gadget-nya. Hhe. Bagaimana? sound cool?  Sepengalaman saya persatuan rumpun persandalan ini tidak akan diutak-atik oleh penjaganya, apalagi jika tanda-tanda sandal atau alas kaki lainnya sudah mencuat keluar dari kantung, misalnya bagian depan sandal kelihatan sedikit nonggol keluar, hehe.


Bagi Anda yang pria maupun wanita silahkan pilih salah satu cara di atas yang membuat kalian lebih nyaman, karena tidak mungkin kan pria mengenakan mukena, huehueue.

Raudhah

Apa yang menjadi keistimewaan Masjid Nabawi? tak lain dan tak bukan salah satunya adalah raudhah. Raudhah sendiri sebenarnya berarti taman atau lokasi terbuka yang penuh pepohonan dan bunga yang indah, sedangkan raudhah di masjid Nabawi sendiri bukan berarti taman penuh bunga-bunga karena teman-teman tidak akan menemukannya di Nabawi selain burung-burung yang terbang di atap Masjid, hehee.

Raudhah pada masjid nabawi adalah sebuah area yang ditandai dengan kerpet berwarna hijau yang terbentang diantara makan nabi dan mimbar nabi. Jadi, jika teman-teman belum bediri di karpet berwarna hijau tandanya belum menginjakan kaki ke raudhah, hehe. Lalu, kenapa area ini disebut sebagai raudhah? karena sabda nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa area ini akan menjadi taman di surga kelak. Raudhah sendiri dipercaya sebagai salah satu tempat berdoa yang multazam. Tidak hanya makam Rasulullah, di raudhah juga terdapat makam Abu bakar dan Umar. Hukumnya beribadah di raudhah ini adalah sunah dan tidak menyebabkan rusaknya ibadah umroh jika tidak dilakukan.

Bagian Raudhah untuk Jamaah Pria

Bagi kaum Adam, akses memasuki raudhah lebih mudah kemana-mana ketimbang kaum Hawa. Jika kaum Adam dapat memasukinya 24 jam, maka lain halnya dengan kaum Hawa yang mesti memakai jadwal dan akan dipandu oleh petugas wanita bercadar yang membawa plang bertuliskan nama masing-masing negara. Jadwal memasuki raudhah bagi kaum hawa ada tiga. Sehabis subuh, sehabis Dzuhur dan sehabis Isya. Saya rekomendasikan sekali bagi kaum Hawa memasuki raudhah sehabis Isya, karena pada waktu tersebut lebih sepi sehingga mengantri tidak terlalu lama. Memangnya kenapa jika mengatri terlalu lama? Toh, saya ikhlas saja dalam mengantri. Yah, memang betul sekali kita harus ikhlas mengantri berlama-lama tapi kita juga harus sanggup menahan hajat buang air dan buang angin jika ingin sholat dua rakaat di dalam raudhah. Nah loh?! Mengantri di sini bukanlah satu jam, tapi bisa dua jam bahkan lebih, sedangkan tempat wudhu harus keluar dari area masjid dan yang paling parah, jika kita keluar dari rombongan yang mengantri belum tentu kita bisa masuk kembali karena pintu masuk telah ditutup. Kebayang kan repotnya? Hehee.  

Mengenai tata cara beribadah di raudhah saya bagikan tips dan trick-nya:

1)     Bawalah buku panduan beribadah yang diberikan oleh biro perjalanan. Saya biasanya memberi label buku ini dengan tulisan agar lebih mudah dicari. Misalnya bab tatacara beribadah di raudah saya beri label “Raudhah” tatacara tawaf saya beri label “Tawaf” dan lain sebagainya. Jadi ketika beribadah tinggal buka saja labelnya.
2)   Datanglah ke raudhah minimal berdua. Kenapa harus berdua? Agar ada yang bisa menjaga kita ketika sedang sholat. Jika tidak ada yang menjaga bisa jadi kepala kita akan di injak-injak oleh pengunjung lainnya, kecuali jika kita menggunakan biro perjalanan sekelas Makhtour. Konon katanya biro perjalanan umroh ini telah menyewa penjaga jadi jamaahnya akan dijaga ketika beribadah. Miris ya lihatnya, hehe, tapi yang namanya ibadah penuh perjuangan sob, so don’t worry,  Allah watch us! Setidaknya Allah tahu perjuangan kita bagaimana.
3)   Berwudhu, memakai wewangian dan berpakaian rapih sesuai syariat. Ketika akan memasuki raudhah, sholat dulu tahyatul masjid. Jika teman-teman mengikuti sholat isya,  maka selesaikanlah dulu semua hajat” selepas sholat, kemudian berwudhu lagi sebelum mengantri masuk raudhah.
4)  Bagi wanita carilah penjaga wanita bercadar yang membawa plang “Malaysia” (jika tidak ada yang membawa plang Indonesia), plang ini berlaku juga untuk orang Indonesia karena kita serumpun walau sering terjadi permusuhan diantara kita, hehehe.
5)   Ikutilah petunjuk penjaga, dan bersabarlah. Jangan keluar dari jalur dan aba-aba penjaga. Semua yang dilakukan penjaga adalah untuk kebaikan para jamaahnya. Jangan ngotot keluar dari antrian dan memaksa masuk, tidak sedikit kejadian “kecelakaan” yang dapat merenggut nyawa di raudhah.
6)   Ketika memasuki raudhah ucapkan salam pada Rasulullah dan sahabatnya, sholatlah dua rakaat, kemudian segera berdirilah. Berdoalah sambil berdiri dan berjalan keluar dari raudhah (kecuali jika tempat sepi) cara beribadah seperti ini akan memberikan tempat bagi jamaah lain untuk sholat dan tentu saja mengamankan diri kita dari perbuatan dosa karena egois dan kecelakan yang terjadi akibat berebut tempat.

Well, masih banyak yang ingin saya ceritakan seputar Madinah, insya Allah tulisan saya berikutnya akan membahas seputar perbelanjaan dan hal-hal menarik lainnya di Madinah. Tentu saja saya juga akan menuliskan keadaan Mekah dan Jeddah. Tunggu tulisan saya berikutnya.. see ya!!


Baca Juga : Catatan Penting Seputar Umroh, Part 1, Part 3, Part 4
Share:  

1 comment:

  1. Artikelnya sangat bermanfaat. Sebagai kelengkapan dan kenyamanan dalam menunaikan ibadah, kami menawarkan MUKENA yang nyaman untuk anda gunakan.

    ReplyDelete